Selamat datang di Satrio'site

Budaya Malu

Sabtu, 21 Juli 20120 comments





Bangsa Indonesia nyaris kehilangan budaya malu, disebabkan untuk mengukur kemajuan atau sukses suatu bangsa lebih menggunakan pendekatan pada sumber daya, kesukuan dengan menjauhkan budaya hidup positif dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya hidup sangat menentukan bagi kemajuan suatu bangsa. Budaya malu perlu dikedepankan, sebab seberapa besar tingkat kesalahan seseorang akan mempengaruhi kinerja suatu organisasi. Jika yang bersangkutan salah, lantas mundur dan melepas jabatannya maka hal itu merupakan sikap terpuji sebelum ke depannya merugikan banyak orang .

Dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, ''Apabila kamu sudah tidak punya perasaan malu, maka lakukanlah apa pun yang kamu mau.'' Dari riwayat tersebut Rasulullah ingin mengajarkan bahwa malu merupakan salah satu prasyarat untuk ketakwaan, dalam artian ketika ingin melakukan suatu kesalahan atau maksiat dan perasaan malu ada dalam hati maka keinginan untuk melakukannya menjadi hilang. Malu yang dimaksud oleh Rasulullah di sini bisa diartikan dua hal. Pertama, malu kepada Allah, karena setiap perbuatan manusia sekecil apa pun dan detik per detik tentu tak akan lepas dari muraqabatullah. Ketika Allah membenci setiap perbuatan maksiat seorang hamba, ketika itulah si hamba harus sadar bahwa kemurkaan Allah akan didapatkan kalauperbuatan itu terus dilakukan.Kedua, malu kepada manusia. Ini bukan berarti kita berubah menjadi menuhankan manusia itu sendiri, tetapi yang dimaksud di sini adalah perasaan malu ketika manusia lain mengetahui perbuatan tersebut. Sebab, secara manusiawi setiap orang yang melakukankesalahan pasti ingin menyembunyikan dari orang lain, karena hati kecil manusia selalu danakan selalu mengajak kepada perbuatan mulia.

Kalau dikaitkan dengan potret pemilu di Indonesia sekarang, kita sampai kepada kesimpulan bahwa perasaan malu sudah tidak lagi dipunyai para elite politik. Keinginan untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan mengalahkan bisikan hati nurani. Rasa malu karena kekalahan dan ejekan pendukung mengalahkan rasa malu kepada Allah yang menciptakan kekuasan itu sendiri. Berbagai upaya ditempuh untuk sebuah kebanggaan didunia walaupun harus melakukan cara-cara tercela.

Semakin jauhnya harapan rakyat dari realita tidak memberikan kesadaran dan rasa malu bagi mereka yang gagal mengemban amanah rakyat. Krisis ekonomi semakin menghimpit, harga-harga melangit, kesejahteraan wong cilik semakin tak tersentuh. Pengangguran, anak jalanan, kriminalitas semakin menjadi-jadi. Tapi, ketika mengampanyekan diri untuk menjadi pemimpin, dengan tidak punya rasa malu kembali berteriak lantang sebagai orang yang paling peduli kepada rakyat.

Hal ini sangat beda sekali dengan budaya malu di Jepang. Orang setingkat menteri saja mundur karena berbuat salah. Tanpa diminta. Bahkan ada yang melakukan harakiri atau bunuh diri, karena budaya malu demikian kuat. Di negeri itu juga orang menghormati orang tua, di kantor maupun di rumah.

Jadi masih adakan budaya malu di Indonesia? Akhirnya budaya malu pada diri sendiri adalah hal yang paling penting dalam hidup. Jika saja kita semua bisa menerapkan Budaya malu, maka segala hal akan baik. Pendidikan akan maju, negara ini akan maju, tidak ada kebodohan, tidak ada kemiskinan, tidak ada egoisme. Tapi jika tidak ada budaya malu pada diri sendiri, maka negara ini akan menjadi negara yang terus dipermalukan oleh rakyatnya sendiri.

Share this article :

Posting Komentar

 
Cara Gampang | Creating Website | Johny Template | Mas Templatea | Pusat Promosi
Copyright © 2011. Satrio'site - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modify by Satrio'site.blogspot.Com
Proudly powered by Blogger